RANGKUMAN MATERI PAI KELAS 9 BAB 5 TENTANG KEHADIRAN ISLAM MENDAMAIKAN BUMI NUSANTARA

Kumpulan Materi PAI (Pendidikan Agama Islam) SMP/MTs Kelas 9 Bab 5 Tentang Kehadiran Islam Mendamaikan Bumi Nusantara. cgtrend.blogspot.com, dalam rangkuman atau ringkasan Materi PAI Kelas 9 SMP/MTs Bab 5 mencakup trending topic dari penjelasan soal:
  1. Proses Masuknya Islam di Nusantara
  2. Proses Penyebaran Islam di Nusantara


Cgtrend: RANGKUMAN MATERI PAI KELAS 9 BAB 4 TENTANG AKIKAH DAN KURBAN MENUMBUHKAN KEPEDULIAN UMAT
https://cgtrend.blogspot.com/

1. Proses Masuknya Islam di Nusantara

a. Perdagangan

Menurut berita Cina, agama Islam disebarkan oleh orang-orang Arab. S.Q. Fatimi dalam bukunya Islam Comes to Malaysia mengemukakan bahwa Islam berasal dari Benggala. Snouck Hurgronye berpendapat bahwa Islam disebarkan ke Indonesia oleh para pedagang muslim dari Gujarat (India). Menurutnya, Islam tidak disebarkan langsung dari Arab. Hubungan langsung antara Arab dan Indonesia baru berlangsung abad ke-17, yaitu pada masa kerajaan Samudera Pasai, Banten, Demak, dan Mataram Baru. Pendapatnya itu diperkuat oleh bukti adanya kesamaan unsur-unsur Islam di Indonesia dan di India.


Selain itu, adanya cerita- cerita tentang nabi-nabi di Indonesia yang berbeda dengan langgam Arab, tetapi bergaya India. Mengenai golongan masyarakat pembawa Islam ke Indonesia, para ahli umumnya sependapat, yaitu kaum pedagang. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa penyebaran Islam dilakukan melalui perjalanan lalu lintas perdagangan dan pelayaran.


b. Pengajaran

Dalam agama Islam setiap muslim adalah pendakwah. Baru kemudian pada masa-masa berikutnya terdapat mubalig dan guru agama Islam, yang tugasnya khusus mengajarkan agama Islam. Mereka ini mempercepat proses Islamisasi, sebab mereka mendirikan pesantren dan mencetak kader-kader ulama/guru-guru agama Islam.


c. Sosial

Selain golongan pembawa, ada pula golongan penerima Islam. Terdapat dua penerima Islam, yaitu golongan elite (raja-raja, bangsawan, dan para pengusaha) dan golongan non elite (lapisan masyarakat biasa). Golongan elite lebih cepat mengalami proses Islamisasi, karena kedudukannya yang mempunyai pengaruh di kalangan masyarakat biasa. Proses Islamisasi ada beberapa jalan, yaitu melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, tasawuf, dan kesenian. Islamisasi lewat saluran perdagangan terjadi pada tahap awal, yakni sejalan dengan kesibukan lalu lintas perdagangan (antara abad ke-7 sampai abad ke-16). Banyaknya pedagang muslim yang bermukim di Indonesia, terbentuklah tempat-tempat pemukiman yang disebut Pekojan. Diantara pedagang muslim asing itu, ada pula yang menetap lalu menikah dengan wanita pribumi. Proses Islamisasi melalui kesenian dampak dari bukti-bukti peninggalan sejarah, seperti ukiran, pintu gerbang, makam, tradisi sekaten, pertunjukan wayang, debus, tarian, dan sebagainya. Penyebaran Islam melalui seni wayang, sastra, debus, tarian, tradisi sekaten, ternyata lebih mempercepat proses islami-sasi. Sampai sekarang proses islamisasi melalui saluran seni masih berlangsung.


2. Proses Penyebaran Islam di Nusantara

Tahukah kamu bagaimana proses dan siapa saja yang berjasa terhadap penyebaran Islam di Indonesia? Berikut merupakan beberapa pihak yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia.


a. Ulama

Di Pulau Jawa dikenal adanya Wali Sembilan (Wali Songo) yang merupakan tokoh-tokoh ulama penyebar agama Islam. Bagaimana peranan Wali Songo dalam penyebaran agama Islam? Wali Songo adalah ahli agama yang dekat kepada Allah swt., mempunyai tenaga gaib, tenaga batin, dan menguasai ilmu yang tinggi. Kesembilan wali tersebut mempunyai gelar Sunan, yaitu Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunungjati. Pemberian gelar itu didasarkan pada tempat mereka dimakamkan, seperti Gunung Jati di Cirebon, Drajat di dekat Tuban, Giri di Gresik, dan sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan lebih jauh tentang sejarah kiprah para anggota Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia.


(1) Sunan Gresik

Sunan Gresik nama aslinya adalah Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan sebutan Maulana Magribi. Para ahli sejarah menduga bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Maroko. Tanggal lahirnya belum banyak diketahui orang. Hanya tahun wafat dan pemakamannya yang dapat diketahui yaitu wafat pada tanggal 8 April 1419 dan dimakamkan di Pekuburan Gapura Wetan, Gresik. Selama hidupnya, beliau dikenal sebagai orang yang sangat ahli di bidang agama Islam. Ia sangat pandai dalam menarik simpati masyarakat Jawa yang ketika itu pada umumnya masih memeluk agama Hindu dan Budha. Dengan cara yang dilakukannya itu, dakwah-dakwahnya banyak diminati orang.


(2) Sunan Ampel

Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dari istrinya yang bernama Dewi Candrawulan. Beliau dikenal sebagai penerus ayahnya yang gigih dalam menyiarkan agama Islam di Ampel Denta, Surabaya.


Berbeda dengan ayahnya, Raden Rahmat menggunakan pondok pesantren sebagai sarana penyebaran agama Islam. Ia mendirikan pondok pesantren yang pertama di Ampel Denta, Surabaya. Di pesantren inilah ia banyak mendidik para pemuda Islam untuk disebarkan ke seluruh pelosok pulau Jawa.


Di antara murid-muridnya yang kemudian tampil sebagai tokoh agama Islam antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri, Raden Patah yang menjadi raja di kerajaan Islam Demak, Raden Makdum Ibrahim (putra Sunan Ampel sendiri) yang dikenal sebagai Sunan Bonang, Syarifuddin yang dikenal sebagai Sunan Drajat, dan banyak lagi.


Menurut Babad Diponegoro, Sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan Istana Majapahit. Ia dikenal sebagai pelopor kerajaan Islam pertama di pulau Jawa, yaitu Demak. Dialah yang mengangkat Raden Patah sebagai Sultan Demak pertama. Sunan Ampel juga dikenal sebagai pendiri Masjid Agung Demak, yang dibangun tahun 1479. Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 dan dimakamkan di Surabaya.


(3) Sunan Bonang

Sunan Bonang nama aslinya adalah Makdum Ibrahim, atau Raden Ibrahim. Makdum adalah gelar untuk seorang ulama besar, yang berarti orang yang dihormati. Ia putera Sunan Ampel, dari perkawinannya dengan Dewi Candrawati.


Dari perkawinannya dengan Dewi Hiroh, ia memperoleh seorang puteri bernama Dewi Rukhil, yang kemudian diperistri oleh Sunan Kudus. Setelah belajar agama Islam di Pasai, Aceh. Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa Timur untuk mendirikan pondok pesantren. Santri-santri yang belajar kepadanya datang dari berbagai pelosok Nusantara.


Dalam menyebarkan agama Islam ia selalu menyesuaikan dengan corak kebudayaan Jawa. Ia menggunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwahnya. Lagu gamelan wayang berisikan pesan-pesan ajaran agama Islam. Setiap bait lagu diselingi Syahadatain (ucapan dua kalimat sahadat).


Kegiatan dakwah Sunan Bonang dipusatkan di daerah Tuban. Pesantrenya dijadikan basis tempat mendidik para santrinya. (cgtrend: Kata Ucapan Selamat Hari Santri Terbaru) Sunan Bonang memberikan pendidikan agama Islam secara khusus dan mendalam kepada Raden Patah, putra raja Majapahit Prabu Brawijaya V, yang kemudian menjadi sultan Demak. Catatan pendidikannya kini disebut Suluk Sunan Bonang, atau Primbon Sunan Bonang, yang sampai sekarang masih tersimpan di Universitas Laiden, Negeri Belanda. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban, Surabaya.


(4) Sunan Giri

Sunan Giri nama aslinya adalah Raden Paku, atau Prabu Satmata, dan sering disebut juga Sultan Abdul Fakih. Beliau adalah putera Maulana Ishak yang ditugasi Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Blambangan. Ia juga bersaudara dengan Sunan Gunung Jati dan Raden Patah, karena istri mereka bersaudara. Ia belajar agama Islam di pesantren Sunan Ampel dan berteman baik dengan Sunan Bonang.


Sunan Giri dikenal sebagai pejuang Islam yang gigih. Ia menggunakan pesantren dan cara dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Para santrinya ditugasi untuk berdakwah ke berbagai daerah di Pulau Jawa, Pulau Madura, Bawean, dan Tidore.


Sunan Giri wafat pada tahun 1600-an dan dimakamkan di bukit Giri, Gresik.


(5) Sunan Drajat

Sunan Drajat nama aslinya Raden Kasim atau Syarifuddin, dan disebut juga Sunan Sedayu. Menurut silsiah, Sunan Drajat adalah putera Sunan Ampel dari istri kedua bernama Dewi Candrawati. Ia mempunyai saudara seayah dan seibu, yaitu Siti Syareat, Siti Mutmainah, Siti Sofiah (istri Sunan Malaka), dan Sunan Bonang. Ia juga mempunyai dua saudara seayah lain ibu, yaitu Dewi Murtasiyah (istri Sunan Giri). Istri Sunan Drajat, Dewi Sifiyah, adalah puteri dari Sunan Gunung Jati.


Dalam menyiarkan agama Islam, ia menggunakan media dakwah dan mendirikan pesantren. Ia dikenal sebagai orang yang baik hati dan suka memberikan pertolongan kepada masyarakat, seperti menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Sunan Drajat wafat pada pertengahan abad ke-16 dan dimakamkan di Sedayu, Gresik.


(6) Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga nama aslinya adalah Raden Mas Syahid dan sering dijuluki Syekh Malaya. Nama Kalijaga konon berasal dari bahasa Arab, Qadizaka, yang artinya pelaksana dan pembersih. Qadizaka yang karena lidah dan ejaan kemudian menjadi Kalijaga, berarti pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Walatikta yang menjadi Bupati Tuban, sedang ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Berbeda dengan wali-wali lainnya, Sunan Kalijaga berdakwah dengan cara berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya.


Berkat kepandaiannya dalam berdakwah yang selalu logis dan masuk akal, banyak kaum bangsawan, pengusaha, kaum intelektual lainnya bersimpati kepadanya. Bahkan, Raden Patah sebagai Sultan Demak sangat menghargai pendapat dan nasihat-nasihatnya. Ia kemudian diangkat sebagai juru dakwah kerajaan Demak.


Dalam berdakwah ia mengarang cerita wayang purwa dan wayang kulit yang bernafaskan Islam. Jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian tidak hanya pada seni wayang, tetapi juga pada seni suara, ukir, seni pahat, seni busana, dan kesusastraan. Sunan Kalijaga wafat pada pertengahan abad ke-15 dan dimakamkan di Kadilangu, Demak.


(7) Sunan Kudus

Sunan Kudus nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi ketika kecil ia dipanggil Raden Untung. Ia sering juga dipanggil Raden Amir Haji, karena ketika berangkat haji bertindak sebagai kepala rombongan (amir). Ayahnya bernama Raden Usman Haji yang menyebarkan agama Islam di Jipang, Panolan, Blora, Jawa Tengah.


Sunan Kudus dikenal sebagai sunan yang paling banyak ilmu agamanya. Diantara Walisongo, hanya dia yang mendapat julukan wali al’ilmi, artinya orang yang luas ilmunya. Karena kepandaiannya itulah maka banyak santri-santri yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara.


Selain sebagai juru dakwah, Sunan Kudus juga sebagai panglima Angkatan Perang Kerajaan Islam Demak yang tangguh.


Menurut cerita, Sunan Kudus pernah berlayar ke Baitul Makdis di Palestina dan berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban jiwa di sana. Sekembalinya ke pulau Jawa ia mendirikan sebuah masjid di Loran pada tahun 1549. Mesjid itu diberi nama Masjid al-Aqsa atau al-Manar, artinya masjid menara Kudus.


Daerah sekitarnya pun diganti nama menjadi Kudus. Nama ini diambil dari sebuah nama kota di Palestina, yaitu al Quds. Dalam melaksanakan kegiatan dakwah, ia melakukan dengan pendekatan budaya. Hal itu terbukti dengan diciptakannya berbagai cerita yang bernafaskan keagamaan, seperti Gending Maskumambang dan Mijil.


Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 dan dimakamkan di daerah Kudus, Jawa Tengah.


(8) Sunan Muria

Sunan Muria nama aslinya adalah Raden Umar Said atau Raden Said, sedangkan nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria, karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria, 18 km sebelah utara kota Kudus sekarang.


Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ia sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di desa-desa terpencil di daerah gunung Muria. Ia tekun mendidik rakyat agar menjalankan ajaran Islam. Dalam rangka dakwahnya ia menciptakan tembang Sinom dan Kinanti yang beranfaskan Islam.


Sunan Muria wafat pada abad ke-16 dan dimakamkan di bukit Muria, Jepara.


(9) Sunan Gunungjati

Sunan Gunungjati yang nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah adalah cucu raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.


Perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang melahirkan dua putera dan satu puteri, yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Senggara.


Setelah ibunya wafat, Raden Walangsungsang meninggalkan keraton untuk belajar agama Islam kepada Syekh Datu Kahfi (Syekh Nurul Jati) di Gunung Ngamperan Jati. Demikian pula adik perempuannya, Nyai Lara Santang menyusul belajar agama Islam di sana.


Setelah tiga tahun belajar agama Islam, keduanya diperintahkan gurunya untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekah.


Di Mekah Nyai Lara Santang mendapat jodoh yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah), seorang bangsawan Arab dari Bani Hasyim.


Raden Walangsungsang setelah menunaikan ibadah haji kembali ke Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan (Cirebon). Sementara itu, Nyai Lara Santang melahirkan Syarif Hidayatullah pada tahun 1448 M. Setelah dewasa Syarif Hidayatullah memilih berdakwah di pulau Jawa daripada di negeri Arab. Ia kemudian menemui Raden Walangsungsang yang sudah bergelar Cakrabuwana. Setelah pamannya wafat, ia menggantikan pamannya menyebarkan agama Islam di Cirebon dan berhasil menjadikan Cirebon sebagai kesultanan yang bebas dari kerajaan Pajajaran.


Dari Cirebon inilah ia kemudian menyiarkan agama Islam ke daerah-daerah di Jawa Barat yang belum memeluk agama Islam, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Di Banten itulah ia berhasil menjadikan Banten sebagai kerajaan Islam pada tahun 1525.


Ketika kembali ke Cirebon ia menyerahkan Kesultanan Banten kepada anaknya, Sultan Maulana Hasanuddin yang kemudian menurunkan raja-raja Banten. Di tangan raja-raja Banten inilah Kerajaan Pajajaran dikalahkan dan rakyatnya di Islamkan. Bahkan Syarif Hidayatullah melakukan penyerangan ke Sunda Kelapa. Penyerangan itu dipimpin oleh Fatahillah, seorang Panglima Angkatan Perang Kerajaan Demak. Fatahillah kemudian menjadi menantu Syarif Hidayatullah.


Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di daerah Gunungjati, Desa Asatana, Cirebon. Itulah sebabnya, ia dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati sampai sekarang.


b. Peranan Perdagangan

Penyebaran Islam ke daerah Maluku berhubungan dengan perdagangan antara Malaka, Jawa, dengan Maluku. Islam masuk ke Maluku sekitar abad ke-13. Menurut sumber tradisi, penyebaran Islam dilakukan oleh Maulana Husayn pada masa pemerintahan Marhun di Ternate. Menurut hikayat Tanah Hitu disebutkan bahwa raja pertama yang memeluk agama Islam di Maluku adalah Zainal Abidin (1486-1500). Konon menurut berita Zainal Abidin belajar agama Islam pada Pesantren Giri.


Proses islamisasi di Kalimantan Selatan diketahui dari Hikayat Banjar. Proses Islamisasinya ditandai oleh terjadinya perpecahan di kalangan istana, antara Pangeran Tumenggung dengan Raden Samudera. Pangeran Tumenggung adalah raja Dipa dan Daha yang bercorak Hindu. Untuk menaklukkan Pangeran Tumenggung, Raden Samudera meminta bantuan Kerajaan Demak dengan perjanjian bersedia masuk Islam. Berkat bantuan dari Demak, Pangeran Tumenggung dapat dikalahkan. Sejak saat itu, Kerajaan Banjar bercorak Islam. Rajanya, Raden Samudera bergelar Sultan Suryanullah.


Menurut Hikayat Kutai bahwa proses Islamisasi di Kalimantan Timur berlangsung damai. Disebutkan bahwa penyebar Islam di Kutai adalah Tuan Ri Bandang Tuan Tunggang Parangan pada masa pemerintahan raja Mahkota. Raja Mahkota masuk Islam karena merasa kalah kesaktiannya.


Menurut Hikayat Gowa-Tallo dan Wajo bahwa penyebaran Islam di Sulawesi berjalan secara damai. Penyebarnya adalah Dato’ri Bandang dan Dato’ Sulaeman. Kerajaan Islam Gowa kemudian menaklukkan kerajaan Soppeng, Wajo, dan Bone yang raja-rajanya segera memeluk agama Islam pada tahun 1611.


c. Peranan Pendidikan

Pendidikan juga memegang peranan dalam proses Islamisasi. Guru-guru agama, dan pondok-pondok pesantren, dan para santrinya pranata pendidikan Islam. Semakin terkenal kyai (guru agama Islam) yang mengajarnya, semakin terkenal pula pesantrennya. Pada masa pertumbuhan Islam dikenal adanya Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel (Raden Rakhmat) dan Pesantren Sunan Giri (yang murid-muridnya datang dari berbagai daerah).


Raja-raja dan kaum bangsawan mendatangkan guru agama Islam sebagai penasihat agama. Di daerah Banten dikenal Kyai Dukuh (Pangeran Kanyusatan) sebagai guru agama Maulana Yusuf. Syekh Maulana Yusuf adalah penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa. Ki Ageng Sela adalah guru Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) dan Juru Mertani sebagai penasihat Panembahan Senopati.


d. Peranan Perkawinan

Islamisasi melalui perkawinan pengaruhnya lebih besar, jika yang melakukan perkawinan itu dari keluarga yang berpengaruh (golongan bangsawan dan penguasa). Contohnya, perkawinan antara Putri Campa dengan Putra Brawijaya, atau antara Sunan Ampel dengan Nyi Gede Manila (seperti yang dikisahkan dalam babad Tanah Jawa). Dalam Babad Cirebon, disebutkan tentang perkawinan antara Putri Kawungaten dengan Sunan Gunung Jati. Babad Tuban menyebutkan tentang perkawinan Putri Aria Dikara, yaitu Raden Ayu Teja dengan Syekh Ngabdurakhman. Perkawinan antara kaum bangsawan tersebut kemudian melahirkan terbentuknya kerajaan-kerajaan bercorak Islam di Indonesia.


LATIHAN SOAL DAN JAWABAN BAB KEHADIRAN ISLAM MENDAMAIKAN BUMI NUSANTARA

Buat kalian yang sedang belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Mapel PAI), berikut cgtrend share postingan BAB 5 untuk kelas 9 MTs/SMP dengan topic Kehadiran Islam mendamaikan Nusantara:


A. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan benar dan tepat!


1. Sebelum Islam datang, Nusantara berada dalam pengaruh agama ....
a. Kristen
b. Hindu-Budha
c. Kong Hu Cu
d. Katolik

Jawaban: B


2. Islam masuk di Nusantara melalui cara ....
a. penjajahan
b. peperangan
c. damai
d. penipuan

Jawaban: C


3. Berikut ini yang bukan termasuk teori masuknya Islam ke Nusantara adalah ...
a. teori Mekah
b. teori Indonesia
c. teori Gujarat
d. teori Cina

Jawaban: B


4. Kerajaan Aceh mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan ....
a. Sultan Iskandar Muda
b. Sultan Alaudin Riayat Syah
c. Sultan Ali Mughayat Syah
d. Sultan Malik Al-Saleh

Jawaban: B


5. Para mubaligh yang menyebarkan Islam di Nusantara dengan menjalin tali silaturahmi, membaur dengan masyarakat. Hal ini merupakan cara menyebarkan melalui ....
a. perkawinan
b. pendidikan
c. kesenian
d. hubungan sosial

Jawaban: D


6. Sultan Demak Bintoro yang pertama adalah ....
a. Sultan Trenggono
b. Raden Patah
c. Adipati Unus
d. Sunan Prawoto

Jawaban: B


7. Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan ....
a. Sultan Agung Hanyakrakusuma
b. Panembahan Senopati
c. Prabu hanyokrowati
d. Pangeran Benowo

Jawaban: A


8. Kerajaan Makasar merupakan gabungan dari dua kerajaan, yaitu ....
a. Kerajaan Gowa-Ternate
b. Kerajaan Ternate-Tidore
c. Kerajaan Bone-Wajo
d. Kerajaan Gowa-Tallo

Jawaban: D


9. Sunan Gunung Jati berjasa besar dalam mendirikan Kerajaan Banten. Nama asli sunan Gunung Jati adalah ....
a. Umar Said
b. Faletehan
c. Ja’far Shadiq
d. Raden Rahmat

Jawaban: B


10. Raja terakhir kerajaan Banjar adalah ....
a. Sultan Muhammad Seman
b. Raden Samudra
c. Sultan Muhammad Said
d. Sultan Jamaluddin

Jawaban: A


B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar dan jelas!


1. Jelaskan sejarah awal mula masuknya Islam di Nusantara!
2. Bagaimana cara-cara para mubaligh menyebarkan Islam di Nusantara?
3. Bagaimana cara masuknya Islam melalui jalur pendidikan atau pengajaran?
4. Ceritakan sejarah berdirinya kerajaan Samudera Pasai!
5. Sebutkan prestasi besar Sultan Agung selama memerintah kerajaan Mataram!



Berikut adalah jawaban dari soal isian Bab Kehadiran Islam mendamaikan Nusantara


1. sejarah awal mula masuknya Islam di Nusantara sebagaimana dijelaskan cgtrend.blogspot.com: Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan. Sebelum Islam datang, Nusantara berada dalam pengaruh agama Hindu- Buddha. Pengaruh-pengaruh tersebut berdampak pada pola hidup masyarakat di Indonesia. Namun, dalam perkembangannya pengaruh Islam jauh lebih kuat daripada agama Hindu-Buddha.


Masuknya agama Islam di Nusantara melalui jalur perdagangan berlangsung dengan cara-cara damai. Ajaran Islam mudah diterima dan mendapat perhatian dari penduduk Nusantara. Berbagai sumber sejarah menyatakan bahwa agama Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M. Namun eksistensi para pemeluk ajaran Islam menjadi jelas pada abad ke-13 yang ditandai dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai di Aceh sebagai kerajaan Islam yang pertama.


2. Para mubaligh menyebarkan Islam di Nusantara dengan cara perdagangan, perkawinan, pendidikan, hubungan sosial, kesenian.


3. masuknya Islam melalui jalur pendidikan atau pengajaran adalah dengan cara para mubalig mendirikan lembaga pendidikan Islam di beberapa wilayah Nusantara. Lembaga pendidikan Islam ini berdiri sejak pertama kali Islam masuk Indonesia. Nama lembaga-lembaga pendidikan Islam itu berbeda tiap daerah. Di Aceh misalnya, lembaga-lembaga pendidikan Islam di sana dikenal dengan nama meunasah, dayah dan rangkang. Di Sumatera Barat dikenal adanya surau. Di Kalimantan dikenal lembaga pendidikan Islam langgar. Sementara di Jawa dikenal pondok pesantren. Di situlah berlangsung pembinaan, pendidikan dan kaderisasi bagi calon kiai dan ulama. Mereka tinggal di pondok atau asrama dalam jangka waktu tertentu menurut tingkatan kelasnya. Setelah menamatkan pendidikan pesantren mereka kembali ke kampung masing-masing untuk menyebarkan Islam. Melalui cara inilah Islam terus berkembang menyebar di daerah-daerah yang terpencil.


4. sejarah berdirinya kerajaan Samudera Pasai sebagaimana dijelaskan dan diceritakan cgtrend.blogspot.com: bahwa Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang terletak di pesisir timur laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara sekarang. Aceh dan Sumatera bagian Utara merupakan daerah di Indonesia yang pertama kali mendapatkan dakwah Islam. Munculnya daerah tersebut sebagai kerajaan Islam yang pertama di Indonesia diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M. Sebagaimana diketahui proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim terjadi sejak abad ke-7 M. Kawasan Aceh yang strategis dan berada di pintu masuk Selat Malaka menjadikan Aceh sebagai tempat pertemuan para pedagang dari berbagai daerah di Nusantara dan para pedagang dari luar negeri, khususnya para pedagang Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau pengaruh Islam Songot kuat di Aceh dan diwujudkan dalam bentuk munculnya kerajaan Islam Samudra Pasai


Cgtrend:



5. prestasi besar Sultan Agung selama memerintah kerajaan Mataram sebagaimana berikut:
  1. Memperluas daerah kekuasaannya meliputi Jawa-Madura (kecuali Banten dan Batavia), Palembang, Jambi, dan Banjarmasin.
  2. Mengatur dan mengawasai wilayahnya yang luas itu langsung dari pemerintah pusatnya (Kota Gede).
  3. Melakukan kegiatan ekonomi yang bercorak agraris dan maritim. Mataram adalah pengekspor beras terbesar pada masa itu.
  4. Melakukan mobilisasi militer secara besar-besaran sehingga mampu menundukkan daerah-daerah sepanjang pantai utara Jawa dan mampu menyerang Belanda di Batavia sampai dua kali. Andaikata Batavia tidak dipagari tembok-tembok yang tinggi, benteng-benteng yang kuat, dan persenjataan yang modern, sudah pasti Batavia jatuh di tangan Mataram.
  5. Mengubah perhitungan tahun Jawa Hindu (Saka) dengan tahun Islam (Hijrah) yang berdasarkan peredaran Bulan (sejak tahun 1633).
  6. Menyusun karya sastra yang cukup terkenal, yaitu Sastra Gending dan kitab suluk. Misalnya Suluk Wujil (1607 M) yang berisi wejangan Sunan bonang kepada abdi raja majapahit yang bernama Wujil.
  7. Menyusun kitab undang-undang baru yang merupakan perpaduan dari hukum Islam dengan adat istiadat Jawa yang disebut Surya Alam.



Demikianlah share soal kunci jawaban dan Kumpulan Materi PAI (Pendidikan Agama Islam) Kelas 9 SMP/MTs Bab 5 Tentang Kehadiran Islam Mendamaikan Bumi Nusantara yang dapat di share cgtrend.blogspot.com

Posting Komentar untuk "RANGKUMAN MATERI PAI KELAS 9 BAB 5 TENTANG KEHADIRAN ISLAM MENDAMAIKAN BUMI NUSANTARA"